Menelisik Asal-usul Ritual Pawang Hujan yang Viral di MotoGP Mandalika

– Aksi pawang hujan Rara Isti Wulandari dalam gelaran MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat menyita perhatian publik dunia. Rara melakukan ritual agar cuaca di sekitar Sirkuit Mandalika cerah selama pelaksanaan balap MotoGP.
Namun, di balik aksinya itu, keberadaan pawang hujan dalam setiap event atau acara besar masih mengundang pro kontra, ada yang percaya dan ada juga yang tidak percaya.

Seorang pawang hujan asal Bandung Abah Landoeng (75) mengatakan, apa yang dilakukan oleh Rara masih banyak dilakukan dalam acara atau event besar di Indonesia.

“Kata saya itu peninggalan nenek moyang kita yang dilakukan sampai hari ini dan abah juga masih melakukan,” kata Abah Landoeng via sambungan telepon, Senin (21/3/2022).

Tak hanya Rara yang berjuang, memindahkan hujan di kawasan Mandalika, Abah Landoeng mengungkapkan, orang yang memiliki kemampuan memindahkan hujan turut melakukan hal sama. Begitu pun dirinya yang ikut mendoakan agar pada acara berlangsung, hujan berpindah ke wilayah lain.

“Abah juga kemarin ikut mendoakan, sekarang kan ada dua grup, seolah-olah grup pawang dianggap kuno bagi mereka orang-orang yang sekarang pandai, sebetulnya hampir sama seperti BMKG (cara kerjanya). Pawang itu full kepada yang maha kuasa meminta dengan syarat yang sudah ditentukan, tentunya syaratnya tidak seperti BMKG. BMKG menabur garam dan lain sebagainya,” ungkapnya.

“Itu orang tua dulu sama, menabur garam satu sendok ditabur ke arah air yang akan datang, sama, hanya beda nama saja. Kalau pawang itu bekerja ikhlas dan ridho kepada yang Maha Kuasa, ada pun syarat yang lain memercikan air atau mengepulkan asap, ada juga yang ortodoks lempar celana dan sebagainya, itu hanya syarat saja,” ujarnya.

Kalau pun saat ini sudah ada teknologi dan alat pendeteksi cuaca, Abah Landoeng berharap keberadaan pawang hujan ini dapat dirangkul.

“Ini sama seperti BMKG, prakiraan cuaca. BMKG tanpa alat tidak bisa apa-apakan. Sebetulnya jangan meremehkan, tapi harus dirangkul bersama-sama, dari pihak pawang zaman dulu dengan doa-doanya, abah sendiri sudah menjalankan sejak umur 29 tahun sampai sekarang umur 75 tahun,” jelasnya.

Abah Landoeng mengatakan, apa yang dilakukan pawang hujan dalam setiap event atau bukanlah menghilangkan hujan, melainkan memindahkan hujan dari lokasi yang sudah ditentukan.

“Dulu orang membakar kayu, membakar arang, untuk diambil uapnya dan uap itu mengandung molekul-molekul anti panas, sehingga yang lembap di sekitarnya akan buyar karena panas dari hawa itu. Sekarang yang modern dari rokok dikepulkan asap rokok sekali, itu ada jutaan molekul yang menggandung panas dan bisa hilangkan hawa lembap di sekitar kita, itu bisa dilakukan kok,” tuturnya.

Abah Landoeng juga menurunkan, apapun yang dilakukannya kembali lagi kepada sang maha kuasa.

“Itu ridho Allah, abah tahu kok ilmunya, sekarang kalau BMKG dengan alat yang mahal membuang garam tonan menggunakan kapal ditembakkan ke udara sama saja, orang dulu hanya cukup buang garam,” tuturnya.

Terkait, kegiatan pawang hujan yang sebagian orang menganggapnya musyrik, Abah Landoeng berujar, hal tersebut dikembalikan kepada yang bersangkutan.

“Itu tergantung mereka. Tapi terpenting, hati yang ikhlas meminta kepada Allah,” ucapnya.

Menurutnya juga, yang terlibat dalam pemindahan hujan di Sirkuit Mandalika tidak hanya satu pawang hujan, melainkan banyak dan hal itu bisa dilakukan dari jarak jauh dengan cara berdoa dan meminta kepada Allah agar hujan tidak turun dulu di kawasan tersebut.

“Banyak, ada beberapa puluh orang seluruh Indonesia mendoakan agar semua perjalanan itu aman,” tuturnya.

Abah Landoeng juga menyebut, jika dirinya kerap dipercaya oleh hotel-hotel di Kota Bandung bahkan Denpasar Bali untuk memindahkan hujan saat acara berlangsung.

“Jadi kalau ada orang yang bilang menyesatkan, dimana sesatnya? Itu boleh cek ke beberapa hotel di Bandung yang pernah minta bantuan ke abah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.